PATI – Ketegasan Kepala Desa Sukokulon, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jumain menjadi perhatian publik, setelah ia melontarkan kritik keras terhadap maraknya media online yang tidak memiliki standar profesional.
Dalam diskusi bersama Agus Kliwir, Ketua Koordinator SMSI Eks Karesidenan Pati, Kamis (9/4/2026), Jumain menilai dunia pers kini sedang berada di persimpangan, antara profesionalisme atau kehancuran akibat media abal-abal.
Ia menegaskan bahwa media bukan sekadar alat mencari keuntungan melalui viralitas. Menurutnya, pers wajib menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan menulis berita berbasis fakta.
“Pewarta itu harus tahu etika. Narasumber harus jelas. Jangan bikin opini liar,” tegas Jumain kepada wartawan.
Ia menyebut banyak oknum yang mengaku wartawan, namun tidak paham etika profesi, bahkan kerap menyebarkan informasi tanpa dasar yang jelas.
Praktik semacam itu, kata Jumain, bukan hanya merusak citra pers, tetapi juga berbahaya bagi masyarakat. karena menciptakan kebingungan dan perpecahan
Jumain menilai fenomena ini menjadi ancaman serius, karena publik saat ini hidup di tengah banjir informasi.
Ketika media tidak bertanggung jawab, maka masyarakat akan mudah digiring pada hoaks dan propaganda.
Di sisi lain, Jumain menyampaikan komitmen Desa Sukokulon dan desa-desa se-Kecamatan Margorejo untuk menggandeng SMSI dalam mengawal program pemerintahan desa, agar kedepan transparan dan tidak diselewengkan.
“Kritik, saran, masukan itu wajib. Supaya semua pihak paham regulasi pemerintahan,” tambahnya.
Namun ia menekankan bahwa pengawalan tersebut harus dilakukan oleh media yang profesional, bukan oleh pihak yang hanya menjadikan label wartawan sebagai alat menekan pemerintah desa.
Dalam nada tegas, Jumain juga menyentil Kominfo Pati, agar tidak sembarangan menjalin kerjasama publikasi.
“Kominfo Pati saya ingatkan, jangan asal gandeng perusahaan pers. Harus selektif,” kata Kades Sukokulo saat diskusi bersama Ketua kordinator smsi eks karesidenan pati.
Menurut Jumain, Kominfo seharusnya menjadi institusi penyaring media resmi, bukan malah membuka peluang bagi perusahaan pers ilegal, untuk ikut mengakses anggaran publikasi pemerintah.
Ia menambahkan bahwa SMSI merupakan konstituen Dewan Pers, sehingga lebih layak menjadi mitra strategis dalam menjaga ekosistem media sehat.
Di akhir diskusi, Jumain memberikan pesan moral kepada insan pers, agar tidak takut menyuarakan kebenaran, terutama dalam isu keadilan sosial, pelayanan publik serta pengelolaan anggaran desa.
“Jangan lelah menyuarakan keadilan demi kepentingan masyarakat,” tutur Jumain
Pernyataan Jumain menjadi sinyal bahwa masyarakat akar rumput mulai sadar, media tidak boleh dibiarkan liar.
Pers harus kembali pada fungsi utamanya sebagai pilar demokrasi, bukan pedagang sensasi yang menjual kegaduhan untuk keuntungan semata”, pungkasnya.(red)





















Discussion about this post