PATI – Polemik rencana outing class SMP Negeri 1 Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, semakin menguat setelah muncul keluhan dari sejumlah wali murid terkait biaya perjalanan yang dinilai terlalu mahal.
Dalam rencana tersebut, biaya outing class disebut mencapai Rp 1,8 juta per siswa, dengan tujuan wisata edukasi ke Bali.
Situasi ini akhirnya mendorong Komisi D DPRD Pati memanggil pihak sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati untuk meminta penjelasan secara terbuka, Kamis (16/4/2026).
Dalam rapat tersebut, DPRD menyoroti biaya outing class yang dianggap tidak sebanding dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Selain itu, jadwal keberangkatan yang disebut dimajukan dari rencana awal Juni menjadi April 2026, turut menjadi perhatian. karena dianggap mempercepat proses pembayaran
Wakil Ketua Komisi D DPRD Pati, Endah Sri Wahyuningati menegaskan bahwa sekolah harus peka terhadap kemampuan ekonomi wali murid.
Ia menyebut DPRD menerima banyak laporan keberatan dari orang tua siswa.“Kegiatan sekolah yang berpotensi membebani
Wali murid harus dievaluasi. Jangan sampai pendidikan menjadi tekanan ekonomi,” kata Endah.
Maka hal ini, ia juga menilai kegiatan outing class tidak harus dilakukan ke luar daerah, terlebih ke Bali yang membutuhkan biaya besar.
Kami mendorong sekolah memanfaatkan lokasi wisata edukasi lokal di Pati yang lebih dekat, murah, dan tetap memiliki nilai pembelajaran”, tanbahnya.
Ketua Komisi D DPRD Pati, Teguh Bandang Waluyo menambahkan bahwa persoalan tidak hanya pada biaya Rp 1,8 juta, namun juga sistem pembayaran yang dinilai terlalu singkat.
Bandang menyebut wali murid hanya diberi waktu sekitar satu minggu untuk memenuhi pembayaran, sehingga memicu keresahan.
“Banyak wali murid mengeluh karena waktunya singkat. Apalagi biaya itu belum termasuk kebutuhan lain,” ujar Bandang kepada wartawan
Menanggapi kritik tersebut, Wakil Kepala SMP Negeri 1 Tayu, Heri Setiawan menjelaskan surat yang beredar bukan pungutan wajib, melainkan survei persetujuan.
Dari sekitar 300 siswa, disebutkan 155 wali murid menyatakan setuju, sedangkan 145 lainnya tidak setuju.
Bagi siswa yang tidak ikut, sekolah menyiapkan alternatif tugas berupa pembuatan video budaya lokal kabupaten pati”, tutur Heri Setiawan.
Kepala SMP Negeri 1 Tayu, Sri Wahyuni menyampaikan pihak sekolah sudah mengajukan izin kepada Disdikbud Pati.
Namun pihak sekolah menegaskan pelaksanaan outing class masih menunggu keputusan resmi. Jika izin tidak diberikan, sekolah siap membatalkan”, ucap Sri Wahyuni.
Sunarji, Kepala Disdikbud Pati menjelaskan bahwa outing class ke luar kabupaten pati tidak diperbolehkan sesuai arahan terbaru Plt Bupati Pati.
Pihaknya juga akan segera menerbitkan surat edaran resmi dan meminta sekolah membatalkan rencana perjalanan ke Bali.
Polemik outing class ini dinilai menjadi refleksi persoalan pendidikan nasional, ketika kegiatan sekolah yang diklaim sebagai pembelajaran”, tegas Sunarji.
Sering kali memunculkan beban ekonomi baru bagi keluarga. DPRD pun mengingatkan agar sekolah lebih fokus pada substansi pendidikan
Bukan kegiatan yang justru menimbulkan ketimpangan sosial, antara siswa mampu dan tidak mampu.(red)






















Discussion about this post