PATIĀ – Tradisi sedekah laut kupatan di pesisir Juwana, Kabupaten Pati, kembali berlangsung spektakuler dan menyedot perhatian publik, Minggu (29/3/2026).
Ribuan warga memadati kawasan pelabuhan dan jalur utama menuju lokasi acara, menciptakan lautan manusia yang tak terbendung.
Sejak pagi, antusias masyarakat sudah terlihat jelas. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru desa, bahkan dari luar wilayah Juwana.
Tradisi tahunan ini, bukan hanya agenda budaya biasa tetapi telah menjadi kebanggaan kolektif masyarakat pesisir.
Prosesi adat dimulai dengan iring-iringan tradisional yang menjadi daya tarik utama. Suasana semakin meriah ketika rombongan ritual bergerak menuju lokasi puncak acara.
Tradisi ini menyimpan makna spiritual sebagai bentuk rasa syukur nelayan atas hasil laut, sekaligus doa keselamatan. agar aktivitas melaut terhindar dari bahaya.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra. Turut hadir Mukit, Sekretaris Komisi B DPRD Pati, Tanto anggota DPRD Pati, Kepala DKP, Kepala Dinporapar, Danlanal Semarang, unsur Polresta Pati
Kodim 0718/Pati, Danpos AL, Kepala Polairud Juwana, Camat, Kepala Desa Bajomulyo, serta tokoh masyarakat dan nelayan.
“Tak hanya pejabat sipil, unsur TNI – Polri tampak hadir mengawal jalannya acara. Pengamanan ketat dilakukan mengingat jumlah massa yang sangat besar.
Kehadiran aparat keamanan sekaligus menjadi bukti bahwa sedekah laut kupatan, kini bukan hanya milik nelayan tetapi telah menjadi event strategis daerah.
Mukit, Sekretaris Komisi B DPRD Pati menjelaskan, bahwa tradisi ini harus dipertahankan sebagai warisan budaya
āIni tradisi tahunan yang luar biasa. Sedekah laut bukan hanya ritual budaya, tetapi menjadi simbol kekuatan masyarakat pesisir yang terus menjaga kearifan lokal,ā ucap Mukit, Sekretaris Komisi B DPRD Pati kepada wartawan.
Ia menambahkan, sedekah laut kupatan juga menjadi momentum mempererat persatuan nelayan. “Menurutnya, ketika budaya hidup, maka solidaritas masyarakat juga ikut kuat.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra menambahkan, bahwa pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan budaya yang mampu mengangkat identitas daerah, dan memperkuat sektor pariwisata.
Menurut Risma, Juwana tidak hanya punya potensi kelautan yang besar, tetapi juga kekayaan budaya yang mampu menarik perhatian nasional, jika dikelola serius.
Pantauan di lapangan, puncak acara berlangsung saat prosesi pelepasan sesaji ke laut. Ribuan warga berdesakan demi menyaksikan momen sakral ini.
Suasana haru bercampur meriah terlihat jelas, membuktikan bahwa tradisi ini masih sangat melekat di hati masyarakat.
Namun di balik kemegahan ritual, muncul pesan penting bahwa sedekah laut kupatan tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan”, tambah Plt. Bupati Pati.
Masyarakat berharap tradisi ini dibarengi langkah nyata pemerintah dalam memperkuat sektor nelayan, mulai dari perbaikan pelabuhan, peningkatan fasilitas tangkap ikan, hingga perlindungan harga hasil laut.
Sedekah laut kupatan juwana tahun ini. menjadi bukti bahwa budaya pesisir masih berdenyut kuat
Jika digarap serius, tradisi ini bisa naik kelas menjadi agenda nasional, sekaligus menjadi simbol kebangkitan ekonomi rakyat pesisir wilayah Kabupaten Pati.(red)






















Discussion about this post