INFODETIK.CO I Dalam tradisi Jawa, tahta dan pusaka tak pernah terpisahkan. Sejak era Kesultanan Mataram, keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol legitimasi kekuasaan yang diwariskan lintas generasi, Senin (16/2/26).
Perpecahan Mataram melalui Perjanjian Giyanti melahirkan dua pusat budaya besar, Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.
Bersamaan dengan itu, pusaka-pusaka keraton tetap dijaga sebagai simbol kesinambungan trah dan wibawa raja.
Dalam berbagai upacara adat seperti jumenengan atau kirab pusaka, keris ditempatkan sebagai lambang tanggung jawab moral pemimpin.
Budayawan menilai, makna sakral keris sesungguhnya terletak pada filosofi bilahnya lurus, tajam, dan seimbang, cerminan karakter ideal seorang pemimpin.
Di tengah era demokrasi modern, simbol pusaka memang tak lagi menentukan kekuasaan secara formal.
Namun dalam kultur Jawa, legitimasi moral tetap menjadi faktor penting. Keris menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi amanah.
Hal ini menunjukkan, bahwa pusaka bukan benda mati. Ia hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat, membentuk cara pandang tentang etika, kekuasaan, dan tanggung jawab sosial.(red)
























Discussion about this post